Yakin Belajar Filsafat, Sesat?

- 5 Juli 2020, 08:25 WIB
Khalimatul Rahmat, Penggiat Literasi Jambi /

Oleh :

Khalimatul Rahmat

(Penggiat Literasi Jambi)

Sebagian stigma masyarakat hari ini mengangap belajar filsafat lebih menakutkan ketimbang sekedar naik wahana roller coaster. Bukan khawatir dengan kegilaan lajur-lajur berpikirnya yang tampak rumit atau konstruksi bangunan yang kelihatannya sederhana. Cuma memang butuh epistemologi, ontologi dan aksiologi untuk mewujudkan rel-relnya tadi. Gagasan dan ide-ide di dalamnya berdiri kokoh ke arah yang sejati.

Pertama, karena kata “sesat” telah diklaim menempel kepada pemikirnya. Selain itu, kata-katanya meluncur bukan dari mulut orang suci, dalam artian “non-muslim." Istilah gampangannya mereka terlanjur dicap kafir oleh sebagian ustadz-ustadz.
Sebenarnya mereka juga berfilsafat tanpa sadar. Syech Nadim Al-Djisr berkisah lewat bukunya "Mentjari Tuhan" beliau dengan santai menanggapi stigma tersebut. Sudah bagai “Neur” kiper kesebelasan Bayern muchen saja dalam memeluk bola “persepsi” dari serangan lawan-lawannya sendiri yang gagap argumentasi dan tidak logis sama sekali.
Syekh mengatakan kepada muridnya yang milenial pada eranya, bahwa “memang benar, mereka kafir (mengingkari) terhadap Tuhan-Tuhan (dewa-dewa) Yunani. Akan tetapi untuk mengenal Tuhan yang benar, mereka masih mencari-Nya."

Baca Juga: Kezaliman Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Disini pikiran saya mulai tersengat-sengat lebah. Bukan karena coba bermain ke sarangnya yang mengerikan, tetapi, ada madu manis yang perlu diambil dan carikan intisarinya bernama hikmah atau kebijaksanaan.

Kedua, boleh jadi para filosof yang berfikir keras mencari Tuhan yang benar tadi dengan jalan melalui akalnya tersebut. Oleh karena bangunan-bangunan agama waktu itu sudah terlalu dilembagakan, kadung dimaterialistikkan menjadi industri kapitalisme.

Meskipun waktu itu kata "kapital" hanya untuk penempatan tanda pada huruf-huruf yang mesti diawali olehnya atau menunjukan makna khusus seperti, ‘Y’unani, ‘J’ambi, diantara lainnya kau itu ‘K’ekasihku. Inipun masih asumsi sementara.

Ketiga, cara berfikir yang seolah tampak penuh keruwetan. Apalagi buat kita yang malas dan jarang berfikir ini. Bisa menjadi alasan utama, mengapa, untuk menolak mencari Tuhan dengan jalan akal.

Halaman:

Editor: Rizki Saputra


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Lahirnya Pancasila

22 Oktober 2020, 12:06 WIB

Masalah Sosial Tentang Pengangguran

10 September 2020, 17:36 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X